Artikelku untuk Siapa (?)

Seorang kawan protes mengapa saya tidak pernah membuat sebuah tulisan utuh sehingga gagasan saya dapat dinilai/dikritisi oleh khalayak ramai. Dia membandingkan saya dengan rekannya yg suka menulis di facebook.

Nampaknya dia membatasi “tulisan utuh” sebagai sebuah artikel ilmiah yg diawali dengan judul, nama penulis dan kutipan buku atau teori. Padahal, artikel adalah karya tulis lengkap, misalnya laporan berita, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).

Artinya, selama tulisan tsb memiliki pesan atau gagasan, informatif, dapat dipertanggungjawabkan, sistematis, memakai kaidah penulisan yang baku, bolehlah disebut artikel. Terserah penulis bagaimana menyajikan artikelnya dgn narasi, deskripsi argumentasi, atau persuasi. Kesimpulan, artikel itu adalah gagasan yg ditulis sistematis.

Di sinilah pokok masalahnya. Saat ini kita hidup di dunia milenial yang punya ciri aktif di medsos tapi punya budaya baca yg jeblok. Menurut penelitian Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Padahal, ketersediaan infrastuktur budaya baca negara kita di atas negara-negara Eropa.

Saya duga, sumber penelitian tersebut adalah generasi milenial (Generasi Y) yg lahir pd periode 1980-2000.

Generasi milenial kulik laman medsos setiap saat, baca artikel dari gadget, tapi tidak kuat dikasih artikel panjang. Mungkin mereka lebih memilih lari keliling stadion daripada baca buku tebal ribuan halaman. Memang tak cocok utk gaya belajar visual. Tidak heran, banyak dari mereka tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer, Franz Magnis-Suseno, atau Tan Malaka.

Generasi milenial hanya menerima artikel yg langsung ke sasaran, to the point. Sekali skrol tuntas terbaca. Mereka menolak artikel yang teoritis dan njelimet. *Mungkin saja mereka ikut mengunduh buku2 format pdf, tapi belum tentu mereka membaca tuntas.* Mau tidak mau, metode penyampaian pesan pun berubah.

Oh iya, perlu diketahui, facebook yg kita bangga2kan sbg media tempat artikel serius itu ditaruh dibuat oleh Mark Zuckerberg. Dia lahir pada 1984, termasuk generasi milenial. Karena itu produknya dinamakan facebook, sarat konotasi visual, bukan mouthbook ala generasi x. Maka artikel serius yg dipasang di facebook sebenarnya melenceng dari tujuan pembuatan facebook. Artikel serius sudah punya lahannya di wordpress, blogspot dan sejenisnya.

Inilah tantangan kita semua, generasi X yg lahir pada 1965-1980. Generasi X ini berada pd masa transisi. Di Indonesia, generasi ini pernah merasakan fasisme dan budaya feodal Orde Baru ke masa liberalisme dan budaya permissif Orde Reformasi. Mereka memupuk idealisme dgn memamah buku2 babon para ideolog dan filosof besar.

Generasi baby boomer yg kini dihuni para doktor dan profesor masih bisa paham soal generasi x, karena media transformasinya masih sama: media cetak, internet belum banyak berkembang, dan basis garapan yg sama. Tapi para profesor tsb banyak yang tidak paham generasi Y, yg mereka tuding anak galau. Padahal saat bonus demografi itu muncul 2030 maka generasi Y itulah yg bakal duduk di elit pemerintahan/korporasi. Ini target massa yg diincar oleh PSI-nya Grace.

Bila tujuan penulisan artikel itu adalah keterbacaan, bagaimana pesan itu bisa sampai dan dipahami pembaca, maka desain artikel layak pula berubah. Ya, target pasar harus spesifik. Kalau target tsb hibrid dan gradual, maka kita harus punya kemasan yg beragam pula. Salah satunya bentuknya adalah pointer. Gagasan ditulis dalam pesan2 singkat.

Penulisan pointer mmg tidak seperti artikel pada umumnya. Atau anggaplah itu bukan artikel. Tapi inti penulisan adalah sampainya gagasan. Tidak heran kita sering melihat pointer tsb muncul dalam bentuk grafis. Karena orang pada umumnya, khususnya generasi milenial, senang visual. Nah, pada beberapa kondisi, saya lebih suka menulis pointer daripada artikel yg panjang lebar utk saya bagi di medsos. Alhamdulillah, jarang ada kritik. *Mungkin karena pointer saya dianggap bukan artikel. Atau, pointer tsb mmg tidak dibaca.*

Saat ini kita dihadapkan pada zaman yg berbeda, antara penulis dan pembaca. Apa yg kita tulis belum tentu terbaca, apa yg kita maksudkan belum tentu terpahami, apa yg kita inginkan belum tentu tersepakati. Bukan karena perbedaan prinsip atau nilai. *Melainkan karena kemasan dan bagaimana pesan tsb disajikan.*

Maka pikiran saya melayang kpd komunitas yg sedang kita bangun lebih dari tiga tahun lamanya. Anggotanya tidak bertambah, komunikasinya masih konvensional, dan program kerja yg tidak punya dampak luas. Mungkin karena yg kita lakukan itu sudah jamak dilakukan pihak lain. Mungkin juga karena kita tak kenal siapa objek yg akan kita gaet. Kita anggap mereka harus punya minat membaca buku2 tebal ratusan halaman seperti kita. Kita menilai komunitas literasi kita itu par excellence. Tapi kita belum serius menangani kemasan sehingga pesan2 kita bisa diterima lebih luas. Hal ini perlu kita obrolkan secara seksama.

Saya punya website pribadi yg 100% berisi tulisan/opini pribadi. Saya juga punya akun facebook. Keduanya lama tak tersentuh. Mungkin karena saya kagok menulis. Mungkin karena saya tidak mau kuota internet dan baterei saya cepat habis gara-gara buka facebook. Mungkin juga karena saya gamang. Wajah saya menghadap generasi milenial, tapi kaki saya masih terbenam di generasi sentralisme Orde Baru. Berarti bukan soal artikel kan?

 

Habis Subuh, 24/10/2017
Ahmad A.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *